Juni 22, 2021

Penulis Asal Krui Pesibar, Raih Penghargaan “Rancage”2021

28 min read

Pesisir Barat-MP– Prestasi sastra ditorehkan oleh Putra daerah Krui, Eli Darmawanti dengan meraih penghargaan tingkat Nasional untuk Kategori pengembangan Bahasa Dan Sastra daerah, oleh Yayasan Kebudayaan “Rancage” 2021, Minggu (31/12).

Keputusan HADIAH SASTERA “RANCAGÉ”  TAHUN 2021

PENDAHULUAN

Alhamdulillahirobbilalamin, atas rahmat Allah SWT serta bantuan berbagai pihak yang menaruh perhatian terhadap perkembangan bahasa dan sastera ibu, Hadiah Sastera “Rancage” 2021 akan diberikan kepada para penulis buku berbahasa daerah. Sejak tahun 1989, sudah 33 tahun kami memberikan hadiah Rancagé secara berkesinambungan yang diumumkan setiap tanggal 31 Januari.

Untuk kali pertama pengumuman ini tanpa kehadiran penggagas Hadiah Sastera “Rancagé”, Bapak Ajip Rosidi. Kami  tentu berduka, tetapi ada  hal penting setelah kepergian beliau, yaitu warisan-warisan budaya yang menjadi tanggung jawab kami. Salah satunya adalah keberlangsungan Hadiah Sastera “Rancagé”. Kami akan berupaya untuk melanjutkan apa  yang beliau rintis demi kemajuan kebudayaan daerah dan kebudayaan Indonesia. Dengan demikian, sepanjang masih ada buku sastera daerah yang terbit, kami akan terus menyelenggarakan hadiah ini.

Hadiah Sastera “Rancage” 2021 merupakan yang ke-33 kalinya untuk sastera Sunda, ke-27 kalinya untuk sastera Jawa, ke-23 kalinya untuk sastera Bali, keenam kalinya untuk sastera Lampung, dan kedua kalinya untuk sastera Madura. Tahun ini kami tidak memberikan hadiah untuk sastera Banjar dan Batak karena jumlah buku yang terbit dalam bahasa tersebut tidak memenuhi persyaratan Hadiah Sastera “Rancagé”. Selain itu, tahun 2020 kami juga menerima buku dalam bahasa Minang dan Aceh, tetapi belum dapat kami nilai karena masing-masing hanya satu judul. Buku tersebut akan kami sertakan pada penilaian tahun berikutnya.

Secara umum, perkembangan buku-buku sastera berbahasa daerah yang terbit tahun 2020 cukup menggembirakan. Pandemi Covid-19 di sepanjang tahun 2020 rupanya tidak mengurangi semangat para penulis dan penerbit. Misalnya, buku yang terbit dalam bahasa sastera Jawa tahun 2020 mencapai 35 judul. Memang, dari tahun ke tahun selalu ada pasang-surut penerbitan buku sastera di masing-masing daerah. Namun, kualitas karya sastera tidak diukur oleh jumlah buku yang terbit. Hal yang lebih penting adalah kesinambungan, regenerasi penulis, serta peningkatan kualitas bahasa dan sastera dari masing-masing daerah. Kami berterima kasih kepada para penulis, penerbit, dan pegiat sastera daerah yang telah menunjukkan dedikasinya dalam mengembangkan salah satu warisan budaya.

Perkembangan buku sastera daerah juga ditopang oleh peran komunitas dan lembaga. Di beberapa daerah ada komunitas untuk berbagi pengetahuan tentang penulisan karya sastra, bahkan hingga upaya untuk menerbitkan karya-karya terpilih. Sekadar contoh, di lingkungan sastera Sunda ada Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PP-SS, sejak 1966) dan Paguyuban Sastrawati Sunda Patrem (sejak 1982), di lingkungan sastera Jawa ada Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS, sejak 1977), Pamarsudi Sastera Jawa Bojonegoro, Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta (SSJY, sejak

1991), demikian pula di daerah lainnya. Selain itu, balai bahasa di tiap provinsi yang merupakan Unit Pelaksana Teknis dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa juga ikut berperan dalam pemajuan sastera daerah. Bahkan, menurut Prof. Endang Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, tahun 2021 akan ada penerjemahan ratusan buku berbahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia.

Pengumuman Hadiah Sastera “Rancagé” dapat terselenggara berkat kerja keras para juri yang dengan tekun membaca, menelaah, dan memutuskan buku terbaik setiap tahun. Pengurus Yayasan Kebudayaan Rancagé telah memercayakan sepenuhnya penilaian buku-buku tersebut. Oleh karena itu, kami juga mengucapkan terima kasih kepada para juri, yaitu Dr. Hawe Setiawan dan Dr. Tedi Muhtadin dari sastera Sunda, Sri Widati Pradopo dan Dhanu Priyo Prabowo dari Sastera Jawa, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra dari Sastera Bali, Dr. Farida Aryani dari sastera Lampung, Rita Sihite dari sastera Batak, Jamal T. Suryanata dan Hairus Salim dari sastera Banjar, serta D. Zawawi Imron dari sastera Madura.

HADIAH SASTERA RANCAGÉ 2021 UNTUK SASTERA SUNDA

Tinjauan Umum

Sejauh yang terdata hingga akhir Desember 2020, ada 23 judul buku berbahasa Sunda yang terbit pada tahun 2020. Dibandingkan dengan data tahun-tahun sebelumnya, publikasi Sunda setahun terakhir secara kuantitatif tidak begitu berbeda. Jumlah terbitannya berkisar di angka 20-an.

Di  antara  seluruh  buku  yang  terbit  pada  2020,  hanya  ada  satu  buku yang dimaksudkan sebagai bahan bacaan buat kanak-kanak. Sebagaimana dengan publikasi Sunda pada tahun-tahun sebelumnya, publikasi buku bacaan kanak-kanak selalu menempati jumlah produksi yang terkecil.

Untuk mendapatkan suasana umum yang menandai publikasi Sunda setahun terakhir, sekurang-kurangnya ada tiga judul yang patut diperhatikan. Ada Wawacan Putri Sekar Arum karya Cucu Suhartini, Keblueks: Kumpulan Sajak Sunda Digital karya Wahyu  Heriyadi,  dan  novel  Sasalad:  Sempalan  Épidémi di  Tatar  Garut  karya  Dadan Sutisna.

Berdasarkan data tersebut, patut dicatat bahwa di satu pihak wawacan terbit lagi, dan di pihak lain sajak digital dijajaki. Di luar urusan bentuk, dan terkait pada atmosfer umum setahun terakhir, sejarah epidemi di Tatar Sunda dijadikan tema novel. Sedikit- banyak, melalui ketiga karya tersebut, terlihat kesanggupan untuk terus bergelut memelihara tradisi (wawacan), menyiasati pergeseran platform (digital), dan memastikan relevansi dengan atmosfer kemasyarakatan (masa pandemi).

Menurut tradisinya, dalam kebudayaan Sunda menulis sastera berarti menggubah lagu. Kisah, ajaran, dan ungkapan perasaan dituangkan dalam puisi terikat yang disebut dangding atau guguritan. Sejak sastera Sunda menyerap roman, penulisan wawacan jadi terbenam. Sekarang kiranya hanya spesialis seperti Cucu, guru dan filolog, yang sanggup menggubah kisah seperti Wawacan Putri Sekar Arum.

Dalam hal peradaban digital, kumpulan sajak dari Wahyu Heriyadi menunjukkan ikhtiar untuk menyesuaikan diri dengan peluang baru. Sajak-sajak dalam buku ini dapat dibaca dengan memindai QR Code di halaman buku. Platform baru hendak diandalkan tapi kertas sebagai medium lama tidak benar-benar ditinggalkan.

Pada kasus Dadan Sutisna, keterlibatannya dalam digitalisasi teks berbahasa Sunda memberinya bahan melimpah bagi penulisan kreatif. Data-data seputar sejarah sampar di wilayah Garut pada zaman kolonial, juga teks-teks hasil sastera karya para pendahulunya, memberinya peluang untuk menulis Sasalad. Entah direncanakan atau tidak, novel yang judulnya berarti “wabah” ini seperti jadi ikhtiar turut menanggapi zaman pandemi. Pelukisannya sendiri melampaui batas-batas realisme. Dalam novel ini tokoh utamanya adalah semacam sukma yang masih rindu kepada dunia manusia, tetapi  lingkungan di  sekelilingnya  tidak  dapat melihat  wujudnya  dan  tidak dapat mendengar suaranya.

Hingga batas tertentu, cerita dalam Sasalad barangkali dapat dijadikan alegori mengenai sastera Sunda itu sendiri. Seperti tokoh Sutaya dalam cerita itu, sastera Sunda merasa yakin belum mati, tetapi lingkungan sekelilingnya tidak menyadari kehadirannya. Hanya orang-orang tertentu, seperti tokoh Andasih dalam cerita itu, yang dapat merasakan kehadirannya, itu pun dengan risiko terbawa ke dalam semacam lingkungan gaib.

Semacam kegamangan dalam estetika masih terasa dari situasi umum publikasi sastera Sunda setahun terakhir. Hingga batas tertentu, soal ini barangkali terkait pada bidang kepengarangan. Hingga batas tertentu pula, soal yang sama mungkin terpaut pada keadaan zaman.

Di  tangan  Cucu,  warisan  budaya  berupa  wawacan  masih  berhikmat dengan pelukisan tatanan kehidupan kuna, di seputar putri yang cantik dan pangeran nan tampan,  semacam dunia  fairy  tales  nan  tak  kunjung padam.  Seakan-akan  medium wawacan tidak cocok buat mewadahi masalah-masalah yang lebih mendekati dengan kondisi kehidupan masyarakat dewasa ini.

Panjajakan dunia digital di tangan Wahyu sepertinya masih berkutat dengan urusan platform. Digitalisasi sajak Sunda kelihatannya masih berarti membaca buku sambil memainkan kamera ponsel. Yang tak kalah menariknya adalah memikirkan kemungkinan adanya perbedaan antara “sajak Sunda digital” dan “sajak digital Sunda”.

Demikian pula  penulisan kreatif berbasis data  seperti  yang ditunjukkan oleh Dadan masih menghadapi tantangan untuk mensenyawakan keluasan informasi dengan kedalaman perenungan. Pelukisan dunia pengalaman begitu mendetail, tetapi pendalaman menyangkut konsekuensi logis dari perkembangan insiden dalam kehidupan tokoh cerita masih cenderung datar.

Nomine dan Pemenang

Dari 23 judul buku yang disebutkan di atas hanya 18 judul yang dinilai untuk Hadiah Sastera Rancagé. Karya tersebut mencakup kumpulan puisi, kumpukan cerita pendek, prosa mini, novel, monolog, cerita wayang, dan wawacan. Adapun buku-buku yang tidak dinilai oleh dewan juri adalah buku-buku berupa esai/kritik, cetak ulang, dan karya bersama.

Buku karya sastera Sunda yang dinilai oleh dewan juri adalah Buah Jarami karya Inta Sahrudin, Bulan Sésa karya Imas Rohilah, Galécok karya Moddi Madiana, Gantina karya Nila Karyani, Gupay Kalakay karya Ayi G. Sasmita, Hujan di Pajaratan karya Arif Abdilah, Keblukers karya Wahyu Heriyadi, Lapidin Jawara Subang karya Aan Ikhsan Gumelar, Layung Ngempur di Kampus Biru karya Dea Lugina, Mushap Beureum Ati karya Isur Suryati, Novel Pun Ihung karya Ihung, Partéy Salam Manis karyaTatang Sumarsono, Putri Sekar Arum karya Cucu Suhartini, Sagagang Simpé karya Dédén Abdul Aziz, Sasalad karya Dadan Sutisna, Sekar Gawir karya Sri Sussi Aries Lulupi, Runtagna Aléngka karya Yuharno Uyuh, dan Tembang Kamelang karya Tatang Setiadi.

Setelah dibaca dengan saksama dan didiskusikan, kami memilih empat nomine dengan pertimbangan sebagai berikut.

Bulan Sésa karya Imas Rohilah merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis antara tahun 1992 sampai dengan tahun 2005. Ditulis dengan gaya dominan cerita pendek Sunda, yaitu realis, buku tersebut memuat 14 judul cerpen. Imas adalah lulusan IKIP Bandung (UPI) tahun 1995 dan sekarang adalah guru di SMPN 1 Warungkondang. Ia sudah serius menulis sejak menjadi mahasiswa. Cerpen-cerpen Imas dalam buku tersebut umumnya diangkat dari kehidupan sehari-hari yang kaya dengan informasi yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial. Cerpen-cerpen Imas memperlihatkan kekhasan dalam melihat persoalan dari sudut pandang tokoh utama. Dengan perbendaharaan bahasa dialek dan ketepatan memilih sudut pandang, cerpen-cerpen Imas seolah mengukuhkan tradisi menulis cerpen dengan gaya realis.

Upaya mengatasi penulisan cerpen konvensional ditunjukkan oleh Dédén Abdul Aziz dalam Sagagang Simpé. Dengan 30 judul cerpen yang ditulis dalam rentang tahun 1995 sampai dengan 2014, secara umum Deden berhasil menceritakan manusia-manusia Sunda yang termodernkan. Berbeda dengan jargon-jargon pembangunan di masa lalu yang optimistis, manusia-manusia dalam cerpen Deden justru sebaliknya. Mereka mengalami suasana yang murung, sepi, dan tiada harapan. Seakan mengamini para pengkritik modernisme, tokoh-tokoh dalam cerpen Deden umumnya mengalami hidup yang hampa, tercerabut dari akar, terlepas dari pegangan, tanpa harapan dan tujuan. Suasana ini pula yang tampak dalam novel pendeknya yang berjudul Pangantén yang mendapat Hadiah Sastera Rancagé pada tahun 2003.

Upaya untuk mengatasi dominasi gaya realis dalam prosa Sunda modern dilakukan pula oleh Cucu Suhartini. Berbeda dengan Deden dengan cerpen-cerpennya, Cucu melakukan upayanya dengan menghidupkan kembali penulisan wawacan yang pernah populer pada paruh pertama abad ke-20, tetapi kemudian tenggelam karena masyarakat  sastera  Sunda  modern tidak lagi mendukungnya. Namun, bagai  tunas bakung yang tiba-tiba muncul, ketidakhadiran wawacan di ruang publik ternyata tidak identik dengan kematiannya. Seakan meneruskan tradisi wawacan sebelumnya, Wawacan Putri Sekar Arum tetap menyajikan cerita tentang tokoh-tokoh dari keluarga kerajaan lengkap dengan kekuatan supranaturalnya.

Putri Sekar Arum anak seorang raja yang cantik jelita dan sangat berbudi. Banyak pria yang ingin menyuntingnya, tapi tak seorang pun yang diterima. Kemudian, tiba- tiba negara dalam bahaya, seekor harimau sakti mengganggu kehidupan rakyat. Tak ada seorang pun yang mampu mengatasinya. Raja pun mengumumkan sayembara, barang siapa yang bisa melumpuhkan harimau jahat tersebut akan dijodohkan dengan

Putri Sekar Arum. Namun, upaya tersebut tidak berhasil. Harimau bahkan menghancurkan semua peserta sayembara. Harimau hanya bisa ditaklukkan oleh raja sendiri. Cerita terus berlanjut. Dari dalam perut harimau yang mati terdapat mayat berbalut kain kafan, yang hanya dapat dibuka dengan kesaktian Putri Sekar Arum. Mayat tersebut adalah pangeran yang tampan dan berbudi luhur, tetapi terkena kutukan karena tergoda oleh putri jin. Selanjutnya, paruh kedua wawacan ini bercerita tentang perjalanan hidup pangeran sampai bersatu dengan sang putri.

Berbeda dengan tokoh-tokoh pada cerpen Sagagang Simpé yang sunyi dan tanpa harapan, moral cerita wawacan Putri Sekar Arum justru mengukuhan kembali nilai-nilai luhur agama yang berkaitan dengan kejujuran, patriotisme, kesucian.

Sasalad adalah novel karya Dadan Sutisna. Dengan menggunakan novel sebagai wadah besar yang fleksibel, Dadan mampu menjalin berbagai gaya, sumber penciptaan, dengan detail informasi yang susah dilakukan tanpa memanfaatkan berkah teknologi digital. Bentangannya ke masa lalu, novel ini membuka luas cakrawala sosial politik tatar Sunda pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Namun, bentangannya ke masa kini, bahkan mungkin ke masa depan, memungkinkan novel ini menjadi kritik, paling tidak sebuah perbandingan kelam atas karut-marutnya penanganan wabah yang mematikan.

Yang menjadi  tokoh  utama  novel ini  adalah Sutaya, anak seorang jurukunci makam keramat yang jatuh cinta kepada anak seorang nyai Belanda bernama Andasih. Cinta Sutaya kepada Andasih terkendala karena dihalangi ayah tirinya secara berlebihan. Sutaya bahkan dihajar ayah tiri Andasih dalam pertandingan ujungan, saling pukul dengan menggunakan rotan, hingga pingsan. Inilah yang menjadi pendorong Sutaya berguru ilmu kebal kepada seorang guru yang berada di hutan Sancang. Karena ketekunannya, Sutaya bukan hanya mendapatkan ilmu kebal, tetapi mendapatkan pula berbagai ilmu, termasuk ilmu halimunan, menghilang. Namun, menjelang penurunan ilmu terakhir Sutaya pergi meninggalkan sang guru karena ingin melepaskan rasa rindunya kepada Andasih. Kemampuannya dalam ilmu halimunan memungkinkan ia dapat berbuat apa pun tanpa diketahui orang lain. Namun, itulah masalahnya. Setelah Sutaya bisa menghilang, ia tidak pernah dapat kembali menemukan tubuhnya, karena ia tidak tahu ilmunya. Sementara gurunya sudah tiada.

Ketiadaan tubuh ini memungkinkan ia dapat memasuki rumah siapa pun dan menyelidiki perilaku siapa pun. Ia hanya dapat berkomunikasi dengan orang yang berilmu tinggi. Lewat tokoh Sutayalah pembaca diberi tahu tentang kejadian-kejadian yang berlangsung dalam sejarah di  tatar Sunda, mulai  dari  pemberontakan petani Banten,  pembunuhan  Haji  Hasan  di  Kewadanaan  Leles,  penumpasan  para  dukun santet, dan wabah pes yang melanda warga kabupaten Garut. Cerita berakhir dengan bersatunya Sutaya dengan Andasih di alam tak kasat mata. Setelah terserang wabah pes, Andasih menjadi sangat sensitif, sehingga memungkinkan dirinya dengan mudah menyerap ilmu halimunan yang diajarkan Sutaya.

Berdasarkan pertimbangan dalam uraian di atas, pemenang Hadiah Rancagé 2021 adalah novel Sasalad: Sempalan Épidemi di tatar Garut karya Dadan Sutisna (lahir di Sumedang, 22 Februari 1978).

HADIAH RANCAGÉ 2021 UNTUK SASTERA JAWA

Pengantar

Sepanjang tahun 2020, dunia sastera Jawa modern menerbitkan 35 buah terkirim pada karya kreatif sastera Jawa dalam aneka genre. Tiga puluh dua (32) buah buku yang terkirim antara bulan Februari sampai dengan akhir September, sedangkan yang 3 buah lagi baru diterima pada minggu ke tiga bulan Desember, jadi semua bejumlah 35 buah. Alhamdulillah, kami tidak menyangka sama sekali jumlah karya tahun 2020 melebihi jumlah tahun 2019. Bayangkan, datangnya buku-buku, satu demi satu baru sejak akhir Februari 2020, amat lambat. Sampai dengan akhir bulan Juli, di meja kami baru datang 11 buah buku, yaitu 1 buku dari pengarang Klaten, 1 buku dari pengarang Kebumen, 3 karya pengarang Yogyakarta, disusul oleh 3 buku karya pengarang muda dari Madiun (Tulus S.), dan 3 buku karya pengarang Tulungagung (Sunarko Budiman). Selanjutnya, hingga akhir Agustus tidak satu pun lagi karya baru yang datang. Kondisi seperti itu menyebabkan kami hampir putus asa. Kami sadar bahwa situasi ekonomi negara saat ini sedang prihatin, karena seluruh bidang kehidupan sedang lumpuh. Negara sedang fokus pada penanggulangan terhadap serangan wabah pandemi  Covid-19. Sebagai anggota masyarakat, pengarang pun pasti terdampak oleh situasi itu, terutama kreativitasnya di sektor penerbitan dan penyebaran karya. Untunglah, pada awal bulan September,  tak terduga, satu demi  satu buku-buku  sastera  Jawa  berdatangan lagi. Diawali dengan karya-karya dari komunitas pengarang Tegalan, datang di meja kami 8 buah buku, atas nama Lanang Setiawan (5 buku karya Lanang dan 3 buku atas nama kawan-kawannya: Tri Mulyono, Mohammad Ayyub, dan Muarif Essage). Dia adalah salah satu penggerak kebudayaan dan sekaligus seniman di bidang sastera Jawa- Tegalan. Lima buah buku karya Lanang menunjukkan profesinya, sehingga pada tahun 2011 memperoleh penghargaan sastera Rancagé di bidang jasa. Selanjutnya, menyusul karya dari 4 orang pengarang Bojonegoro, dari sanggar Pamarsudi Sastera Jawa Bojonegoro (PSJB) yang dipimpin oleh J.F.X.Hoery, mereka datang dari sanggar PSJB (jumlahnya 7 karya). Hoery membawa 2 karya, yaitu 1 buku antologi puisi 1000 Haiku, dan 1 buku antologi cerpen. Tiga pengarang dari Bojongoro lainnya, ialah Suwandi Adisuroso (1 karya), JMV Sunarjo (2 karya), dan Lestari Sahsa Malika (1 karya). Pada minggu terakhir bulan November datang 4 buah buku lagi dari 3 tempat, yaitu Widodo Basuki dari Surabaya (penggurit) dengan 2 antologi puisi, berikutnya ialah seorang penyair perempuan dari Jakarta (Naning Scheid), kemudian yang ketiga hadir ialah novelis muda, Zainal A.Hanafi dari Madura. Adapun yang keempat adalah novelis puteri  tangguh  dari  Yogyakarta,  Margaret  WidhyPratiwi. Jadi,  hingga  akhir  bulan November, seluruh buku yang terkumpul di Seksi Sastera sebanyak 32 buah. Akan tetapi, tidak tersangka-sangka pula, pada pertengahan bulan Desember 2020, masih datang 3 buah novel tebal. Pertama, dari Yogyakarta, novel berjudul Lakon karya Ardini Pangastuti Bn, tebal halaman 275. Kedua novel dari Purworejo, judul Sakedheping Mripat, tebal 543, karya Atas S. Danusubroto, dari Purworejo (Jawa Tengah). Buku ketiga, dari Yogyakarta, berjudul Omah, karya Krisna Mihardja berjudul Omah tebalnya 1.035 halaman.

Dengan datangnya 3 buah novel di akhir bulan Desember tersebut, seluruh buku sastera Jawa yang tercatat masuk dinilai 35 buah. Namun, setelah kami mencoba membaca dan memahami ketiga novel tersebut, ternyata diperlukan waktu lama, baik untuk novel Lakon, apalagi novel Omah yang lebih dari 1.000 halaman. Oleh karena itu, kami tetapkan penilaian ketiga novel tebal tersebut ditunda untuk tahun depan.

Penentuan Nomine

Seperti telah diketahui bahwa jumlah antologi puisi yang terhimpun di Seksi Sastera Jawa adalah yang terbanyak, yaitu 18 buah; jenis novel 6 buah, dan antologi cerpen 5 buah. Antologi-antologi puisi Jawa tahun 2020 ini mempunyai kecenderugan khusus yang menonjol, yaitu bangkit dan dinamis dalam mengembangkan kreativitas pengarang-pengarang Jawa di daerah yang masih fasih menggunakan bahasa setempat. Seperti di Pantura, misalnya dialek Tegalan semakin dipahami dan dicintai masyarakat. Mereka juga memiliki tokoh-tokoh masyarakat yang tangguh yang ingin memmublikasikan karyanya ke masyarakat luas dengan menerjemahkan karyanya ke dalam bahasa asing, misalnya karya-karya mutakhir Lanang Setiawan diterjemahkan oleh Isti Anah. Begitu juga halnya dengan penyair muda Naning Scheid (sudah tinggal di Brussel sejak tahun 2006). Di Brusel menyebarkan puisi Indonesia dan Jawanya dalam 5 bahasa (bahasa Indonesia, Jawa, Inggris, dan bahasa Prancis). Pertumbuhan yang terasa pada tahun 2020 ini, kami dikejutkan dengan terbitnya 2 buku sastera Jawa Dermayu, atau sastera Jawa dalam bahasa Jawa dialek Indramayu, karya Supali Kasim. Buku yang pertama berupa antologi puisi, berjudul Sawiji Dina Sawiji Mangsa, sedangkan buku yang kedua berupa antologi cerita-cerita lucu, berjudul Kalesan Daslam, Crita Guyon Dermayon, juga ditulis oleh pengarang Supali Kasim. Dialek bahasa Jawa (pada tahun 2019) pengarang Dermayu ini ternyata sudah mengikutsertakan bukunya yang berjudul  Durung Mati Sukmane Wis Nglayu-layung terdiri atas 9 Naskah Drama Pendek Basa Jawa Dialek Dermayu. Buku tersebut membuktikan bahwa masyarakat Indramayu tidak asing dengan bahasa Jawa standar (Yogya—Solo), seperti kutipan ini.

Saking Penerbit

Buku ingkang gadhah isi guyonan utawi humor ngangge basa Jawa Dermayu kados-kadose dereng wonten. Nanging teng masyarakat ingkang ingkang namine guyonan punika kathah. Secara lisan masyarakat sampun biasa nyelipaken humor dhateng kocap, obrolan, pidhato, utawise perkawis sanese….’

Penyair Supali Kasim ternyata seorang guru, sehingga dia juga sering menulis sastera dan kebudayaan, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa karya dialek Dermayu. Dua karyanya cukup bagus, membangun keseimbangan antara keindahan seni dan kegunaannya membangun jiwa akan terciptakan karya-karya sastera, baik fiksi maupun prosa.

Antologi puisi terbit tahun ini ialah munculnya 2 buku antologi haiku atau puisi Jepang klasik, berformula pendek 5-7-5 (limo-pitu-limo) atau dikenal juga dengan formula Li-tu-li. Banyak penyair Indonesia menulis puisi klasik ini karena pendek dan imajiner, dan bersifat oral. Dalam tahun ini 2 penyair Jawa, yaitu J.F.X. Hoery membuat buku antologi: 1.000 Haiku dan Widodo Basuki membuat buku antologi: 507 Haiku Jawa.

Di depan telah disebutkan bahwa prosa adalah yang paling sedikit, hanya 11 buku, yaitu 5 buku antologi cerpen, dan 6 buah buku novel. Kelima antologi cerpen itu ialah 1) Beoku lan Jolendo: Antologi Cerita Cerkak (karya Narko “Sodru” Budiman); 2) Lagon Lelakon: Antologi Cerkak (karya Margareta Widhy Pratiwi); 3) Kumpulan Crita Cekak: Alun Isih Gumulung (karya J.F.X. Hoery); 4) Kumpulan Cerita Cerkak: Aji Aji Jaran Goyang (karya JMV Sunarjo); 5) Kalesan Daslan: Crita Guyon Dermayon (karya Supali Kasim). Adapun 6 buah novel yang dinilai: 1) Ngrangsang Lintange Luku (karya Narko “Sodrun” Budiman); 2) Dredah Bekakak Gamping: Novel Basa Jawa (karya Nursisto); 3) Dalang Mbarang Katresnan (karya Tulus S.); 4) Novel Basa Jawa: Mendhung Sumilak (karya JMV Sunarjo); 5) Kupu Wengi Mbangun Swarga (karya Tulus S.), dan 6) Tabon, Novel Jawa (karya Margareth Widhy Pratiwi). Setelah  5  antologi  cerpen  dan  6  buku  novel  dibaca,  teryata  masih  banyak kehidupan unik di daerah yang diangkat menjadi tema cerita pendek, seperti kasus “aji-aji jaran goyang”, “mitos bekakak”, dunia pedalangan diangkat sebagai tema, atau sebagai warna lokal dalam menghidupkan cerita di perkotaan. Namun, ada pula novel yang berlatar perkotaan, seperti Ngrangsang Lintange Luku, adalah buku ke-3 dari novel trilogi ini. Buku kesatu Rembulan Ndhuwur Blumbang; bagian kedua berjudul Srengenge Tengange. Buku ketiga adalah perjalanan klimaks kedua tokoh protagonist: Anisa dan Miko, dimulai dengan mulai menjauhnya Miko dari kehidupan tokoh utama Anisa yang semakin sibuk dengan grup Yulia si pemim, dan alur inilah yang digunakan grup itu. Suatu ketika Miko sakit mata yang membangun alur baru Miko, setelah ia berteman baru, gadis manis, Tyas. Jalur itulah yang mengarahkan alur trilogi ini ke happy ending.

Setelah 5 buku nomine dibaca berulang, dan selanjutnya dipertimbangkan dengan seksama, maka ditetapkan bahwa yang terpilih sebagai karya sastera Jawa terbitan tahun 2020, yang menerima Hadiah Sastera Rancagé untuk sastera Jawa ialah Sawiji Dina Sawiji Mangsa, 55 Puisi Jawa Dermayu karya Supali Kasim, diterbitkan oleh Rumah Pustaka.

HADIAH SASTERA RANCAGÉ 2021 UNTUK SASTERA BALI

Pengantar

Buku berbahasa Bali yang terbit sepanjang tahun 2020 berjumlah 10 judul. Jumlah ini menurun dibandingkan 13 judul yang terbit tahun 2019. Dari ke-10 judul itu, terdapat 1 novelet, 3 kumpulan puisi, 5 kumpulan cerpen dan 1 kumpulan esai. Buku kumpulan esai tidak ikut dinilai untuk nominasi Hadiah Sastera “Rancagé”. Angka 10 judul itu merupakan angka rata-rata terbitan buku sastera Bali modern selama  hampir 10  tahun  terakhir. Untuk  tahun 2020,  sembilan dari  sepuluh  buku diterbitkan oleh satu penerbit, yaitu Pustaka Ekspresi, dikelola oleh penulis sastera Bali modern, I Made Sugianto, yang sejak dua tahun ini menjadi kepala desa di kampungnya. Sugianto sudah pernah mendapat Hadiah Sastera Rancagé dua kali, yaitu sebagai pembina dan juga atas karya yang diciptakan. Dari segi latar belakang penulis, buku sastera yang terbit tahun 2020 ditulis oleh penulis lama (Nyoman Tusthi Eddy dan I Made Suarsa), penulis yang sudah mapan (IBW Keniten, IB Pawanasuta, Komang Berata), dan penulis baru (Agus Sutrarama, I Nyoman Agus Sudipta, dan Wikana Seraya). Penulis Agus Sutrarama kelahiran 1984 dan Wikana Seraya kelahiran 1989, berusia relatif muda. Hal ini menandakan terjadinya alih  generasi  atau berlanjutnya  pertumbuhan  sastera  Bali  modern.  Kenyataan  ini mungkin bisa dijadikan bukti untuk bersifat optimisme menatap masa depan sastera Bali modern.

Judul-judul dan penulis buku yang terbit adalah novelet Nyingkir (Nyingkir) karya I Made Suarsa; tiga kumpulan puisi yaitu Sepi karya Ida Bagus Pawanasuta, Gending Nyapnyap (Tembang Gelagapan) karya Nengah Patra, dan Osah (Gelisah) karya Nyoman Tusthi Eddy; lima kumpulan cerpen yaitu Wangchi Wuhan (nama kota di Tiongkok) karya IBW Widiasa Keniten, Mulih (Pulang) karya I Nyoman Agus Sudipta, Tilem Siduri (Tilem Terakhir) karya Wikana Seraya, Ngelekadang Meme (Melahirkan Ibu) karya Komang Berata, dan Swastyastu Cinta (Swastyastu Cinta) karya Agus Sutrarama.

Untuk kumpulan esai, judulnya Puyung Misi (Kosong Berisi) karya duet I Nengah Konten dan I Nyoman Sutirta. Tulisan dalam buku ini berasal dari artikel yang dimuat di surat kabar Bali Post (sisipan bahasa Bali, Bali Orti). Topik yang dibahas beragam, sesuai dengan tema aktual ketika dipublikasikan, misalnya tentang pahlawan, kearifan lokal, dan ihwal pembangunan dalam arti luas (fisik dan nonfisik).

Pertimbangan

Novelet Nyingkir (Nyingkir) karya I Made Suarsa mengisahkan perjalanan hidup I Made Sanggra selaku pejuang, mulai dari ketika menyingkir dalam rangak bergerilya menghadapi NICA, sampai dengan ditetapkan sebagai veteran. Selain itu, juga dilukiskan kisah Made Sanggra sebagai pengarang sastera Bali modern, beberapa karyanya seperti cerpen Ketemu ring Tampaksiring sebagai juara lomba. Atas jasanya sebagai veteran dan sastrawan, keluarganya mendirikan Yayasan Made Sanggra, untuk menjaga spirit perjuangan Made Sanggra.

Novelet ini merupakan kisah biografis, tokohnya adalah sosok yang nyata, I Made Sanggra, oengarang yang tampil sebagai sasgtarwan bali pertama meraih hadiah sastera Rancage untuk kumpulan puisinya Kidung Republik (1998). Novelet ini menarik kisahnya, dan juga disampaikan dengan bahasa liris dan penuh irama. Novelet ini tidak ubahnya sebuah prosa liris. Lewat novelet ini, bahasa Bali terasa sangat indah. Tiga kumpulan puisi adalah Sepi karya Ida Bagus Pawanasuta, Gending Nyapnyap (Tembang Gelagapan) karya Nengah Patra, dan Osah (Gelisah) karya Nyoman Tusthi Eddy. Ketiga kumpulan puisi ini diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi.

Kumpulan puisi Sepi karya Ida Bagus Pawanasuta memuat 55 judul puisi adalah peraih anugerah Gerip Maurip (Pena Hidup) yang diberikan penerbit Pustaka Ekspresi. Dilihat dari  segi tema, antologi puisi  Sepi mengekspresikan tentang kesepian yang diungkapkan dalam berbagai konteks. Tema sepi itu juga digunakan untuk berbicara tentang takdir, makna guru, dan refleksi sosial. Dua sajak di awal “Sepi” dan “Jalan Sepi;

Kintamani”. Tema sepi yang direfleksikan lewat keindahan tampak pada puisi “Batur”, tentang danau di kawasan wisata Kintamani yang dilukiskan dengan ungkapan ombak danau menghanyutkan perasaan (ombaknyanè nyujur sisi, ngulangunin manganyudang manah). Sepi jauh dari riuh.

Tema  refleksi  sosial  tampak  pada  puisi  “Surya  Siu”  (Sorak  Seribu)  yang mengekspresikan sindiran bahwa kebenaran bisa kalah dan salah jika kebanyakan orang membenarkan yang salah. Dari segi gaya (style), puisi-puisi dalam antologi ini lebih menonjolkan  pola  ungkapan seperti  repetisi,  sementara  irama  bunyi  tampak tidak menjadi prioritas.

Kumpulan puisi Gending Nyapnyap (Tembang Gelagapan) karya Nengah Patra memuat 34 puisi-puisi pendek yang secara visual karakteristiknya jelas terlihat. Panjang puisi rata-rata 2-3 bait, dengan 8-10 baris. Menyajikan puisi pendek adalah sesuatu yang tampak disengaja, bisa dilihat dari cara penyair menulis puisi berseri, misalnya puisi

rawat’ (bayangan) ‘rawat 1’ sampai dengan ‘rawat 4’ dan puisi ‘peteng’ (malam) dari seri 1—7. Puisi ‘mangmung’ (sepi) merupakan puisi terpendek, ditulis dalam 3 baris, terdiri dari hanya 10 kata, mengekspresikan tentang sepi.

Kekhasan lain dari gaya puisi dalam antologi ini adalah semuanya ditulis dengan huruf kecil, tidak ada huruf kapital mulai dari judul sampai dengan baris terakhir. Berbeda dengan puisi lain, antologi ini tidak mencantumkan nama penyair di sampul, kiranya bukan kelalaian tetapi sebuah pilihan estetik. Nama penulis dicantumkan di setiap akhir puisi, berarti untuk 34 puisi namanya ditulis 34 kali. Di  bawah  nama  penulis,  dicantumkan  tahun  yang  merupakan  tahun  Saka. Berhubung tahun Saka 78 tahun lebih lambat daripada tahun Masehi, maka tahun 1940 sebagai titimangsa sajak mesti diartikan sebagai 2018 (1940+78). Seperti tercermin dalam puisi ‘mangmung’ (sepi), puisi lain dalam antologi ini juga secara dominan bertema dan mengekspresikan tentang sepi, seperti tersimak dalam pilihan kata ‘embang’ dan ‘sunia’, keduanya berarti sepi dan kosong. Puisi ‘nyapnyap’ yang menjadi judul antologi ini juga berbicara dalam suasana sunyi, di mana panyair mengekspresikan perasaan rendah hatinya, jauh dari teriak-riuh. Puisi ‘peteng’ seri 1-7 juga berbicara tentang malam yang sunyi.

Kumpulan puisi Osah (Gelisah) karya Nyoman Tusthi Eddy memuat 54 puisi, dan seperti disampaikan penyair di pengantarnya, puisi dalam antologi ini puisi berbagai jenis, termasuk puisi naratif, dramatik, dan puisi lugu. Puisi naratif terlihat indah dalam puisi “Raja Pala–Ken Sulasih” (kisah pemburu Rajapala menjebak bidadari Ken Sulasih). Temanya pun beragam, dari cerita rakyat Rajapala, perasaan diri (gelisah, rindu, bahagia),  spiritualitas,  kepedulian  sosial,  tempat  wisata,  dan  tema  lugu  namun bermakna. Tema kepedulian sosial, misalnya terekspresi dalam ‘Buruh I’, ‘Buruh II’, dan ‘Marsinah’, keduanya berbicara tentang ketidakadilan bagi pekerja. Ada juga sajak tentang bom Bali, rumah sakit, daya tarik wisata, yang semuanya mengandung eskpresi kepedualian sosial.

Dalam hal gaya, puisi dalam antologi ini secara umum pendek-pendek, hanya satu puisi yang tertulis dalam satu halaman lebih yaitu ‘Raja Pala Ken Sulasih’, selebihnya pendek-pendek bahkan ada yang tiga baris. Puisi-puisi dalam antologi ini sangat menjaga irama bunyi, terutama bunyi akhir yang disusun bersajak, seperti pantun atau seperti syair, misalnya puisi ‘Peteng’(Malam) terdiri dari satu bait, empat baris yang berakhir dengan bunyi sama -eng: badeng, adeng, peteng, bindeng. Satu puisi patut dicatat karena menggunakan gaya anadiplosis, yaitu gaya penulisan puisi atau prosa yang menjadikan kata  terakhir baris sebelumnya  sebagai kata  pertama  baris berikutnya, seperti pada puisi ‘Raga’ (Raga) yang terkutip begini: Raga tulia maraga angga/ Angga maraga jagat maya/ Maya wit suka duka/ Duka…. dst.

Kumpulan cerpen Mulih (Pulang) karya I Nyoman Agus Sudipta memuat dua belas cerita, beberapa di antaranya mengangkat tema penyakit yaitu pandemi covid-19, HIV AIDS, dan kekerasan yang berlatar belakang konflik politik. Cerpen “Mulih” yang menjadi judul antologi ini mengisahkan seorang gadis berstatus ODP (orang dalam pengawasan) yang tinggal di kota tetapi tiba-tiba pulang (mulih) menengok ibunya di desa menjelang Hari Raya Nyepi. Kepada ibunya dia tidak menjelaskan bahwa di dalam pengawasan sampai akhirnya dia dijemput untuk dikarantina di kota. Hasil tes swab menunjukkan dia positif covid-19. Saat dikarantina, lewat telepon dia mendengarkan bahwa ibunya meninggal, berpulang alias mulih. Cerita tidak eksplisit apakah meninggal karena covid atau bukan, tetapi bisa diduga karena covid yang ditularkan oleh si tokoh utama cerita (Arik). Penggunaan kata mulih di sini menarik karena berarti pulang bagi Arik yang tinggal di kota, berarti meninggal bagi ibunya. Cerpen lain yang mengisahkan derita akibat covid adalah PMI, yang maknanya dua: pekerja migran Indonesia dan singkatan dari nama tokoh cerita Putu Merta Intaran.

Seperti halnya cerpen “Mulih”, cerpen-cerpen lain dalam antologi ini juga banyak menjadikan kehidupan sosial di dunia urban sebagai tema cerita dengan latar belakang kemajuan sosial media yang menjadi sumber kemudahan dan keribetan hidup. Menariknya, cerpen-cerpen dalam antologi ini  semuanya  hadir dengan judul  yang terdiri dari satu kata dengan makna ganda seperti cerpen “Nyoblos” (Nyoblos) yang berarti mencontreng di bilik suara dan berarti ‘menusuk’ musuh yang dianggap lawan politik. Latar perdesaan dan perkotaan sama-sama hadir dalam cerita ini sehingga memberikan refleksi gambaran yang saling melengkapi tentang desa dan kota di era global di Bali.

Kumpulan  cerita  pendek  Swastyastu  Cinta  (Swastyastu  Cinta)  karya  Agus Sutrarama memuat 10 cerpen yang umumnya melukiskan hubungan persahabatan dan kisah cinta di kalangan remaja dan mahasiswa, seperti ketika mendaki gunung bersama. Lukisan latar cerpen, baik latar alam maupun budaya Bali, tersaji dengan baik dan orisinal. Walaupun tema-tema cerita kebanyakan tentang cinta, pesan-pesan moral juga kental diselipkan, seperti tentang pentingnya remaja memiliki prestasi dalam belajar, menguasai keterampilan dalam berbahasa asing, dan keterampilan dalam bidang seni, seperti bisa dibaca dalam cerpen “Ujan Macanggah” (Hujan Bercabang).

Kecuali cerpen “Om Swastyastu Cintayang menjadi judul antologi yang terasa beralur lambat karena seolah ditulis dengan pendekatan penulisan novel, secara umum alur cerita dalam cerpen-cerpen dalam antologi ini mampu menyajikan cerita yang menarik. Sayangnya, ada persoalan teknis dalam tata-tulis, yaitu diabaikannya penggunaan tanda baca dalam dialog antar-tokoh. Ada dialog, tetapi tidak ada tanda bahwa itu dialog sehingga sering jalan cerita menjadi tersendat disimak.

Kumpulan cerpen Wangchi Whuan (nama tokoh utama cerita untuk sebutan virus corona) karya IBW Widiasa Keniten memuat sebelas cerpen, semuanya dengan tema berkaitan dengan pandemi covid-19. Cerpen “Wangchi Wuhan” yang menjadi judul antologi ini mengisahkan ayah dan anaknya menuturkan keganasan Wanchi Wuhan (corona) melanda dunia. Pengarang melukiskan pandemi Covid-19 ini dalam konteks Bali, misalnya dengan menyampaikan pesan agar orang-orang menghindari sabung ayam karena kerumunan ini bisa membuat virus menyebar. Selain menasehati ayahnya agar berhenti ke arena sabung ayam, tokoh remaja dalam cerpen ini juga memberikan teladan pentingnya menjaga diri dengan tinggal di rumah, jika terpaksa keluar (misalnya untuk kerja) begitu tiba di rumah wajib mandi dan ganti baju.

Cerpen lain, seperti “Buduh” (Gila) merupakan ekspresi ketidakpahaman mengapa orang gila memiliki imun yang kuat sehingga tidak terkena virus corona? Cerpen ini mengingatkan baca pendapat yang berseliweran di media massa bahwa orang gila, orang miskin pekerja keras di jalanan, memiliki kekebalan tubuh. Dalam cerita, hal itu dilukiskan sebagai keadilan Tuhan, dan dijadikan sindiran yang jawabannya pasti tidak “…nyak dadi anak buduh? [maukah menjadi orang gila]?’ (hlm. 57).   Cerita   ini   dan   cerita   lain,   menarik   karena   menyajikan   tema   aktual   dan menyampaikan pesan yang berguna bagi masyarakat, hanya saja sebagai cerita memerlukan alur dan konflik sehingga lebih memikat dibaca.

Kumpulan cerpen Tilem Siduri (Bulan Mati Terakhir) karya Wikana Seraya memuat 12 cerita pendek dengan tema-tema tragedi. Tema persoalan hidup ayng diungkapkan menjadikan cerpen-cerpen kisah yang menarik dengan konflik yang kuat. Konflik yang kuat didukung dengan ending yang ditandai dengan klimaks membuat cerita berakhir dengan mengejutkan (surprise). Cerpen dalam antologi ini cukup pendek, tetapi mampu menyajikan kisah yang utuh dan yang dapat mengeksplorasi rasa yang dalam. Yang menarik  juga  dari  cerpen-cerpen  dalam antologi  ini  adalah hadirnya kalimat pembuka cerita yang sudah mengandaikan sebuah kontradiksi atau menawarkan rasa ingin tahu.

Cerpen “Tilem Siduri” yang menjadi judul antologi ini mengisahkan kisah seorang laki-laki yang dibunuh sebagai bentuk pembalasan atas kesekuaannya melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan. Kisah dituturkan dengan memikat dengan klimaks yang mencekam, ketika lelaki itu dipukul dengan potongan kayu dari belakang. Hari ini, pada bulan mati itu, adalah hari terkahir dia melampiaskan kenakalannya, sesudah itu mungkin perempuan tidak takut lagi karena penganggu itu sudah mampus. Cerpen “Tresnan Memene Apeteng” (Kasih Ibu dalam Semalam) melukiskan cerita seorang ibu melahirkan dari sudut pandang si bayi. Lewat cerita ini, pembaca mendapat narasi dan perasaan dari sudut pandang si bayi yang lahir: tentang perasaannya, tentang sang ibu yang menahan sakit, sang ayah yang menanti anaknya lahir, dan sebagainya. Si bayi itu meninggal tak lama setelah lahir, tetapi cerita berlanjut karena dituturkan oleh atma si bayi. Alur dan sensasi yang terasa membuat cerita ini unik. Cerita “Dadong Lipur” (Nenek Lipur) dan “Men Bekung” (Bu Bekung) menunjukkan kemampuan pengarang menyusun cerita dengan alur yang cukup mengejutkan. Kecurigaan yang ada sebagai dasar konflik, seperti seorang ibu yang curiga anaknya belajar kejahatan setelah diintip ternyata mereka belajar ihwal kebaikan; kecurigaan akan istri mandul, ternyata suami yang tidak mampu menghamili. Kecurigaan-kecurigaan menjadi dasar penyusunan konflik, dan pembuktian terbalik menjadi ending cerita yang menarik. Cerpen dalam antologi ini enak dibaca karena disajikan dengan bahasa populer. Kumpulan  cerpen  Nglekadang  Meme  (Melahirkan  Ibu)  karya  Komang  Berata memuat sebelas cerita yang dilukiskan dalam suasana-suasana perdesaan (rural community).  Kisahnya  dilukiskan terjadi  lingkungan  keluarga  dan  juga  masyarakat perdesaan, menampilkan konflik keluarga dan konflik sosial sesuai tema cerita. Cerpen “Mulih” (Pulang) dan “Nglekadang Meme” adalah dua contoh cerita yang dilukiskan terjadi di lilngkungan keluarga, sedangkan cerpen “Kulkul Bulus” (Kentongan Bertalu), melukiskan warga desa menyerang warga pendatang yang tidak mau menghormati masyarakat setempat. Cerpen ini merupakan sindiran atas kejadian pengucilan atas penduduk yang tidak patuh pada aturan sosial di perdesaan di Bali. Dalam cerpen ini, penyerangan publik atas seseorang dengan segera ditangani oleh polisi, sebuah kisah naratif yang berpesan untuk mencegah publik main hakim sendiri.

Cerpen-cerpen dalam kumpulan ini menyajikan tema yang menarik, tersusun dalam alur campuran antara linier dan flashback, dan uniknya lagi adalah ada satu tokoh cerita, Wayahan Supat namanya, yang muncul  sebagai  tokoh utama  dalam semua cerpen, padahal tidak ada relasi naratif antara satu cerita dan yang lainnya. Tema dan gaya cerita tampil orisinal, gaya bahasanya kreatif, dengan kaya melukiskan latar alam dan budaya cerita. Deskripsi cerita banyak diselingi dengan perumpamaan atau pepatah dalam bahasa Bali yang sudah jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari (misalnya: cara nglalab batu bulitan; seperti merebus batu hitam) sehingga karya ini seperti menghidupkannya lagi. Diperlukan perhatian yang sangat fokus untuk memahami narasi dengan gaya bahasa yang simbolik, rada halus, kadang berat yang merupakan ciri khas gaya bahasa Bali Timur.

Berdasarkan pertimbangan di atas karya yang mendapat Hadiah Sastera Rancagé untuk sastera Bali adalah kumpulan cerpen Nglekadang Meme (Melahirkan Ibu) karya Komang Berata.

HADIAH SASTERA RANCAGÉ 2021 UNTUK SASTERA LAMPUNG

Sepanjang tahun 2020, ada tiga buah buku kumpulan puisi yang terbit dalam bahasa Lampung, yaitu Katan Rik Kilak karya Dainurint Toenith berisi 67 judul puisi, Setiwang karya Udo Z Karzi berisi 38 judul puisi, dan  Dang Miwang Niku Ading  karya Elly Dharmawanti berisi 70 judul puisi.

Antologi puisi Katan Rik Kilak berisi 67 puisi yang secara umum bertema kesedihan hati dan juga penguatan diri yang dilandasi dengan falsafah hidup orang Lampung yaitu Piil Pesengiri. Sajak yang mengandung tema kesedihan hati bisa disimak dalam sajak Katan Rik Kilak” (Luka dan Bekasnya) dengan ungkapan “induh pepira katanni hati”(entah berapa luka hati) Yang menarik adalah banyak sajak yang di tulis dengan pola repetisi setiap frase di awal bait, seperti sajak ‘Lamban Langgar’ (Rumah untuk beribadah), yang terdiri dari tiga bait, dan ketiganya diawali dengan ungkapan ‘lamban langgar’, ungkapan repetitif untuk memberikan peneguhan diri.

Antologi puisi Setiwang berisi 38 judul puisi yang bertema tentang legenda sejarah asal usul kehidupan orang Lampung, seperti keindahan alam, spiritualitas, serta kritik sosial. Setiwang merupakan nama sungai (Way) yaitu Way Setiwang yang menandai adanya air bersih dan sejuk, membelah kota Liwa. Keindahan alam terlihat pada puisi “Usim Kahwa,1” (Musim Kopi). Penulis dapat menggambarkan harumnya buah kopi yang sudah masak dan penghayatan suasana menikmati minum kopi. Sampai saat ini pun desa tersebut masih mempertahankan tanaman kopi sebagai unggulan bidang pertanian.

Antologi puisi Dang Miwang Niku Ading berisi 70 judul puisi yang menggambarkan nasihat kepada adiknya yang patah hati karna ditinggal kekasih. Judul ini mewakili puisi lainnya yang bertemakan tentang perilaku, tradisi, adat istiadat, dan sikap orang Lampung. Puisi Dang Miwang Niku Ading diungkapkan dalam bentuk puisi pendek dengan menggunakan teknik repetisi dan memiliki kekuatan imajinasi yang tergambar dalam sajak “niku lagi mengura ketutuk mesikop munih” (kamu masih muda juga cantik). Tema pada Dang Miwang Niku Ading merepresentasikan rasa empati dan kasih sayang yang sangat diperlukan di era saat ini terlihat dalam sajak puisi yang berjudul “Jawoh jak Hulun Tuha” yang menggambarkan kebaruan tema di masa pandemi yang sulit bertemu dengan keluarga dan teman terlihat pada baris “Ajo lagi Corona, mak dacok sesilauan” artinya “ini sedang Corona, tidak dapat saling berkunjung”.

Berdasarkan penelaahan terhadap karya sastera Lampung modern di atas, maka diputuskan penerima Hadiah Rancagé tahun 2021 untuk karya sastera Lampung adalah Dang Miwang Niku Ading karya Elly Dharmawanti, diterbitkan oleh Pustaka Labrak.

HADIAH SASTERA RANCAGÉ 2021 UNTUK SASTERA MADURA

Ada lima judul buku yang terbit tahun 2020, yaitu Lanceng Talpos karya N. Shalihin Damiri, Bajing Tana karya Zainal A. Hanafi, Sokana; Antologi Puisi karya Mat Toyu, Tang Bine Majembar Ate karya Lukman Hakim AG, dan Sagara Aeng Mata Ojan karya Lukman Hakim AG.

Buku Sagara Aeng Mata Ojan merupakan kumpulan puisi karya Lukman Hakim AG. Buku ini cukup menonjol dibandingkan buku-buku yang lain. Hal ini terlihat dari penggunaan diksi,  metafora,  serta  adanya  kesadaran  bahwa  untuk  menulis  dalam bahasa Madura, tidak sebatas pada persoalan kekerasan. Hal ini terlihat dengan tiadanya kata-kata, diksi atau metafor celurit, carok, darah, dan lain sebagainya. Dalam Sagara Aeng Mata Ojan, orang-orang Madura digambarkan dengan kalimat-kalimat yang bersahaja melalui “Gendhing Madura”, “Ngellone Bulan Kaalangan”, “Abathek Sotra”, “I’tidal Panemor”, dan “Alajar ka Polo Elmo”.

Metafor-metafor yang sederhana, diksi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti “I’tidal” yang merupakan aktifitas lima kali sehari dalam salat, “Alajar” atau berlayar merupakan aktifitas sehari-hari masyarakat Madura yang “Abantal Omba’ Asapo Angen” (berbantal omba’ dan berselimut angin), serta “Alajar ka Polo Elmo” (berlayar ke pulau ilmu). Berlayar merupakan aktivitas orang Madura karena dikelilingi kepulauan, serta ke pulau ilmu menandakan untuk tidak berhenti mencari ilmu. Antara judul, isi, serta segala yang terkandung di dalamnya seperti unity yang tidak terpisahkan. Sagara (samudera), berlayar, dan ilmu pengetahuan merupakan selaksa kehidupan yang sangat melekat dengan kehidupan masyarakat Madura.

Setelah melakukan pembacaan serta menimbang secara matang dan utuh maka diputuskan penerima Hadiah Rancagé tahun 2021 untuk sastera Madura adalah Sagara Aeng Mata Ojan karya Lukman Hakim AG, diterbitkan oleh Sulur Yogyakarta.

HADIAH SAMSUDI 2021 UNTUK CERITA ANAK-ANAK BERBAHASA SUNDA

Satu-satunya buku bacaan anak-anak dan remaja berbahasa Sunda yang terbit pada tahun 2020 adalah Pelesir ka Basisir (Berwisata ke Pesisir) karya Risnawati. Pengarang yang juga dikenal dengan nama Risnawati Ahmad ini adalah alumnus Program Studi Bahasa dan Sastera Sunda IKIP Bandung (kini Universitas Pendidikan Indonesia) yang sehari-hari bergiat sebagai guru dan jurnalis di Subang, Jawa Barat. Buku bergambar ilustrasi setebal 112 halaman ini diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Bandung, dan merupakan buku karangannya yang kesekian dalam bahasa Sunda.

Risnawati juga menghasilkan banyak cerita pendek, khususnya yang diumumkan melalui Manglé, majalah yang sempat ia bantu selama sekian tahun.

Dalam katalog dari penerbitnya, buku ini digolongkan sebagai “novel remaja”. Kategori bacaan ini selalu merupakan jumlah terkecil dalam produksi buku berbahasa Sunda dewasa ini. Dengan kata lain, untuk tahun 2020, Risnawati telah ikut menyelamatkan literasi Sunda dari kelangkaan bahan bacaan untuk anak-anak dan remaja.

Novel ini bercerita tentang pengalaman lima orang anak dari satu lingkungan keluarga besar yang berliburan di kampung tempat tinggal leluhur mereka, di pinggiran Jampang Kulon, Sukabumi.

Isinya  terdiri  atas  dua  belas  bab  atau  dua  belas  cerita  yang  satu  sama  lain membentuk jalan cerita secara lurus dari awal hingga akhir, dari saat memulai perjalanan ke kampung hingga saat kembali ke kota.

Sebagai novel, buku ini memang kurang berhasil mengangkat satu pokok masalah yang mempengaruhi tindak-tanduk tokoh-tokoh cerita atau menentukan gerak pengalaman mereka. Jalan ceritanya datar saja seperti koleksi potret dalam sebuah album atau seperti rangkaian sketsa. Kalaupun ada satu pokok masalah yang dapat membetot perhatian pembaca, hal itu hanya diletakkan di ujung perjalanan atau dalam sketsa penghabisan dengan menceritakan kegelisahan kakak beradik Zahra dan Ghifa menyikapi orang yang ramah tapi diam-diam menangkap dan menyembunyikan penyu yang dilindungi oleh undang-undang.

Dengan itu, mungkin sebagai hikmahnya, tiap-tiap cerita dalam buku ini sebetulnya bisa juga dibaca sebagai sketsa yang rampung. Anak-anak dan remaja tidak mustahil dapat menikmati bacaan ini sebagai semacam koleksi sketsa atau kumpulan cerita.

Pengarangnya menunjukkan pengenalan yang cukup baik atas dunia anak-anak, khususnya  anak-anak  dari  lingkungan keluarga  menengah di  perkotaan,  yang dia angkat ke dalam cerita. Hal itu terlihat dari antara lain kata-kata dalam tuturan mereka, benda-benda  dalam  permainan mereka, dan sebagainya. Latar waktunya  mengacu kepada zaman sekarang ketika dunia anak-anak dan remaja telah diwarnai dengan aspek-aspek peradaban digital.

Sebagai pendidik, Risnawati mampu menghindari sikap didaktis dalam ikhtiar menyampaikan tuntunan melalui cerita. Melalui karakterisasi Zahra, siswi kelas dua SMP, dan Ghifa, siswa kelas lima SD, dan saudara-saudara mereka, pengarang berupaya melukiskan dunia anak-anak dan remaja yang ditandai dengan kegemaran membaca buku, bermain play station, serta bertamasya di alam terbuka. Tokoh Zahra tampaknya dikedepankan sebagai semacam anak ideal. Ia gemar membaca buku dengan cakupan bacaan yang luas, mulai dari novel-novel best seller dalam terjemahan Indonesia hingga novel-novel anak-anak dan remaja dalam bahasa Sunda, bahkan ia digambarkan bertekad membaca semua koleksi buku yang mengisi perpustakaan keluarga di rumahnya.

Pelukisan  latar  tempat  dalam  buku  ini  seperti  undangan  tersendiri untuk menikmati tempat- tempat wisata alam, semisal Taman Bumi Ciletuh, bagi anak-anak dan remaja perkotaan yang sehari-hari menemukan dirinya di antara play station, meja belajar, dan rak buku. Hingga batas tertentu, buku ini juga barangkali turut mencerminkan gaya hidup masyarakat kota yang memelihara citraan tentang desa dan alam terbuka.

Sayang, ada sedikit anakronisme dalam pelukisan dunia pengalaman anak-anak itu. Dalam salah satu bagian dari perjalanan anak-anak itu digambarkan bahwa mereka menyanyikan lagu eundeuk-eundeukan. Memang, lagu permainan anak-anak itu secara tradisional dikenal di lingkungan budaya Sunda. Namun, orang mungkin bertanya, apakah anak-anak Sunda dari lingkungan perkotaan dewasa ini sempat akrab dengan lagu tersebut? Ataukah hal ini menunjukkan adanya percampuran antara pelukisan dunia pengalaman anak-anak dewasa ini dan sisa-sisa kenangan masa kanak pengarangnya sendiri?

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, karya Risnawati ini merupakan sumbangan yang sangat berharga ke dalam khazanah bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda di tengah kelangkaan buku dalam kategori bacaan yang satu ini.

Berdasarkan  pertimbangan  sebagaimana  yang tertuang dalam  uraian di  atas, pemenang Hadiah Samsudi 2021 adalah cerita anak Pelesir ka Basisir karya Risnawati (lahir di Sukabumi, 10 Mei 1971). Demikian keputusan ini. Para pemenang Hadiah Sastera “Rancagé” dan “Samsudi”

Bandung, 31 Januari 2021

Ketua Dewan Pembina

JURI HADIAH SASTERA RANCAGÉ

1.Dr. Hawe SetiawanSastera Sunda
2.Dr. Tedi MuhtadinSastera Sunda
3.Sri Widati PradopoSastera Jawa
4.Dhanu Priyo PrabowoSastera Jawa
5.Prof. Dr. I Nyoman Darma PutraSastera Bali
6.Dr. Farida Aryani, M.PdSastera Lampung
7.Rita SihiteSastera Batak
8.Jamal T. SuryanataSastera Banjar
9.Hairus SalimSastera Banjar
10.D. Zawawi ImronSastera Madura
Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.